Status Baru #1

As #Wife and #MomToBe

Kuputuskan saat itu untuk menjadi pendamping hidupmu…

Semoga kita bisa menjadi padu dalam mengarungi bahtera hidup ini…

Kau adalah imam untukku Dan anak-anakmu..  Jadilah sosok Ayah yang bisa ditauldani Dan suami yang membawaku me Jannah-Nya….

Advertisements
Published in: on October 21, 2016 at 9:52 pm  Leave a Comment  

Masih di sini. – with A Bagja Axis My Husband at Multazam No 201, RS Muhammadiyyah Bandung

View on Path

Published in: on July 21, 2015 at 6:05 am  Leave a Comment  

Di belakang bukit adalah puncak gunung gede yang pernah saya singgahi di penghujung tahun 2013 lalu, meski sebagian tertutup awan. Believe it or not, I have been there.

Sempat merenung sejenak, di pematang sawah sore ini: Kapan saya bisa merasakan (kembali) kemegahan ciptaan Allah ini, segarnya udara pegunungan, menyentuh awan, melihat awan tanpa harus menegakkan kepala ke atas, mencium bau semerbak sulfur, merasakan dingin di bawah 0°C, memasak dengan peralatan yang super unik, dan merasakan kebersamaan kawan serta canda tawa yang lepas….
Damn!
How missed I am.

Pict:
#noEffect
#no360Camera
Original.

View on Path

Published in: on January 5, 2015 at 9:49 pm  Leave a Comment  

Hiruk Pikuk Perjalanan si Perantau

Diputuskanlah putar arah lewat jalur Jonggol, setelah 2,5 jam terjebak tak berdaya masih di kawasan Cipanas. Unfortunately,ketika muter balik ternyata padat juga guys. Dua arah ini seperti kena efek virus gigitan zombie yang di film Zombie Falling in Love:hidup tapi gak hidup, mesin nyala tapi tak bergerak.

Lika-liku hidup si perantau, ya seperti ini. Selalu ada pengalaman unik di setiap perjalanan hidupnya.

Jadi teringat cerita Ayah, kaka dan adik 3 tahun yang lalu. Mereka hendak menengok saya yang saat itu masih menjadi mahasiswa di Jakarta. Minggu pagi jam 5.30 mereka berangkat dari rumah, dan percaya gak percaya mereka tiba di Jakarta sekitar jam 1.00 malam dini hari!

Inilah salah satu alasan saya ketika ditanya berapa lama perjalanan Cianjur-Jakarta/Jakarta-Cianjur (*via puncak), saya selalu menjawab unpredictable.
Bisa 3 jam perjalanan, 4 jam, atau lebih dari itu. Dan sekarang entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di hutan Jakarta itu.

Selalu ada dalam pikiran, suatu saat nanti, saya ingin menikmati perjalanan ini dengan pasangan hidup saya dan anak2 kita nanti #hehehe.

Dan sekarang, pukul l6.50, Minggu,15 Juni 2014, saya masih terjebak di kawasan Istana Cipanas dengan posisi putar arah menuju Jakarta via Jonggol.

Sekian cerita saya kali ini. 🙂 – at Istana Kepresidenan Cipanas

View on Path

Published in: on June 15, 2014 at 4:55 pm  Leave a Comment  

Gede is Yours: the Amazing Last Minute in 2013.


Cianjur, Cibodas-Puncak:29 Des-30 Des 2013

Perjalanan kali ini terbilang cukup mendadak (sekali), karena tanpa persiapan apapun, fisik maupun perencanaan lainnya. Ide itu tiba-tiba muncul begitu saja, karena melihat tanggal libur yang ternyata sebentar lagi datang. Saya pun langsung menambah armada untuk menjalankan rencana ini, yang pertama pasti sobat karibku, Yeni. Sebenarnya kami berdua memiliki beberapa options gunung untuk didaki, salah satunya Gunung Slamet, Gunung Tampomas, Gunung Merapi, dan Gunung Gede.

Gunung Slamet, tiket ke Purwokerto sudah habis, yang kosong hanya sampai stasiun Tegal, dan itu artinya ke gunung Slamet harus lewat jalur Guci, bukan Blambangan. Katanya kalau hanya sampai stasiun Tegal masih terlalu jauh menuju basecamp. Sebenarnya ada alternatif lain yaitu menggunakan transportasi bus, Cuma sepertinya lebih prefer kereta. Alhasil, Gunung Slamet pending dulu.

Gunung Merapi, idem sama Gunung Slamet.

Gunung Tampomas, awal mulanya saya iseng iseng saja ngajuin ke teman-teman, dan teman saya setuju. Tapi, setelah searching2 tentang Gunung Tampomas, kayaknya kita mengurungkan niat mendaki ke sana. Soalnya, disana terlalu kental dengan aroma mistis dan konon katanya masih banya hewan liar berkeliaran di sana.

Nah, terakhir Gunung Gede, nyaris batal!. Saya sudah daftar simaksi 4 orang untuk keberangkatan tanggal 30 Desember 2013. Tapi pas tanggal 25 Desember 2013, saya cek simaksi lagi, dan ternyata kami tidak bisa berangkat pada tanggal tersebut, katanya dikarenakan ada kegiatan pemulihan, jadi pendakian TNGGP ditutup dari tanggal 31 Des 2013-31 Maret 2014.

Thanks God, Bang Mamat teman naik gunung kami punya kenalan orang TNGGP, dan kami dikasih CP nya, namanya adalah Kang Nunu. Singkat cerita, saya langsung menghubungi beliau dan mengurusi simaksinya. Dan thanks God again, kami bisa berangkat naik Gede dengan simaksi pendakian tgl 29 Des-30 Des 2013. Berangkat!

Oke, kali ini kami naik hanya berempat saja, Bang Mamat, Bang Taufik, Yeni, dan saya. Meeting point di Terminal Kampung Rambutan, di depan Kodim jam 20.00 WIB.

Sabtu, 28 Desember 2013. Merupakan hari terakhir kerja di tahun ini, pulang tetap jam 16.00 tertulis di mesin finger print. Sepulang kerja langsung mampir ke mini market, beli logistik untuk melengkapi yang kurang, karena sebagian logistik sudah dibeli. Balik ke kosan langsung packing, mandi, shalat maghrib dan langsung berangkat ke Rambutan. Jam 18.45 berangkat dari kosan numpang motor teman sampai perempatan Ampera, dan lanjut naik metro mini 509 jurusan Lebak Bulus – Rambutan (ongkosnya Rp. 3500). Nyampe di Kodim, Kp. Rambutan jam 19.45 WIB. Sambil menunggu, saya bersemedi dulu di Masjid Dalam Kodim, plus Isya dulu. Kemudian Bang Taufik datang, disusul oleh Yeni dan disusul kembali oleh Bang Mamat. Jam 22.00 WIB pasukan lengkap, kemudian kami langsung mencari bus menuju Cibodas, mungkin karena long holiday dan udah agak larut bus jurusan Cibodas jarang ditemui. Jadi, kami baru dapat bus sekitar jam 23.30 WIB.

Jam 02.00 WIB kami baru tiba di Cibodas, kemudian langsung mengurusi simaksi ke Kang Nunu di basecampnya, di Lentera. Awalnya kami mau langsung jalan malam itu juga, tapi atas saran Bang Mamat lebih baik kita mengumpulkan energi terlebih dahulu, dan kita ikut istirahat terlebih dahulu di Basecamp Lentera. Suhu malam di basecamp ini begitu dingin, hembusan angin pekat dari gunung gepang sudah tercium jelas di hidung dan udara dingin begitu leluasa menembus kulit kami…… RRrrrrrr, tiris pisssssannn.

Sebelum berangkat, Kami sempatkan sarapan terlebih dahulu, tenang aja Sob, di area basecamp cibodas masih banyak yang jualan makan, jangankan di kaki gunungnya (read: area basecamp), pun ketika menuju perjalanan puncak gepang, kita akan menemui orang yang jualan makanan nasi uduk. Can you imagine? During the travelling to the peak, there are people surounding us who sell the foods? It’s Amazing, isn’t it? 😀 

Minggu, 29 Desember 2013, pukul 06.00 WIB, seusai sarapan, kami berangat dari kantor simaksi TNGGP jalur Cibodas. Tiga puluh menit pertama memang akan terasa lebih berat,karena di saat tersebut tubuh kita memerlukan adaptasi dengan keadaan dan cuaca sekitar. Tapi, tenang aja, setelah itu akan terasa lebih nyaman kok. Jika dilihat dari keterjalan track naik gunung, jalur Cibodas ini tracknya terbilang mudah, tapi kita bakalan lebih mudah merasa pegal. Why???? Because, the track are consisted of stones which arranged in stack within a ladder unorderly. Intinya, jalur perjalanan hanya terdiri dari batu-batu aja. In this case, the law of 3rd Newton prevail. Ada aksi-reaksi.

Kegagahan Gunung Gede

Pukul 06.45 WIB kami tiba di Telaga Warna, istirahat sebentar. Kemudian kami lanjut jalan lagi. Sepanjang perjalanan dipenuhi oleh keanekaragaman hayati dari vegetasi alam, sempat saya temui juga burung yang hinggap di atas batu.

Perjalanan kali ini cukup santai, karena kami gak memiliki targetan harus sampai jam berapa, masalah ng’camp di mana, itupun belum pasti, antara Kandang Badak, Puncak Gede, atau di Suryakancana. Happy hiking, we called it!

Bunyi gemercik curug air panas semakin terdengar kencang, yeee…. kami gak dipahepin, tepat pukul 10.45 WIB Alhamdulillah kami tiba di curug atau air terjun cipanas (ci=cai=air, panas). Kami istirahat hanya sejenak saja, ya beberapa detik, Cuma cuci-cuci kaki, sama foto2 sebentar, #tetepnarsis. Perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Nah, perjalanan dari curug air panas menuju Kandang batu, track mulai curam dan sedikit terjal. Tapi justru menurut saya, track yang seperti ini lebih asik… hehhe.. Gak begitu lama, kami tiba di kandang batu sekitar pukul 11.00 WIB. Di posko ini, kami istirahat lumayan cukup lama, 1 jam 20 menit!!! Sebagian personil dari Kami, khususnya Bang Taufik nampak tidur lelap dengan wajahnya yang ditutupi slayer. Sedang Bang Mamat, nampak asik ngobrol bersama pendaki lainnya. Terlihat beberapa tenda didirikan di pos Kandang Batu ini. Telusur-ditelusuri, rupanya di posko ini, siswi SMA di Bekasi yang hendak mendaki ke Gede menghembuskan nafas terakhirnya, beberapa hari yang lalu sebelum kami ke sini. Tidak ada pihak atau siapapun yang disalahkan atau bahkan dikambing-hitamkan, karena kita perlu ingat bahwa kapan, dimana, dan dalam keadaan apa kita meregang nyawa sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa, Allah swt. Hal yang harus kita lakukan adalah, pandai-pandai memetik hikmah dari peristiwa yang telah terjadi. In this case, kita harus lebih berhati-hati dan lebih care terhadap kondisi badan kita khususnya dan lebih peka terhadap sesama 🙂 #talktomyself .

Tak terasa, kami pun tiba di posko kandang Badak. Hari masih terlihat cerah dan terang, posko ini udah kayak pasar, banyak para pendaki yang mendirikan tenda di sini. Entah mereka berencana summit hingga Pangrango, Gede, atau pun hanya ngecamp saja. Alhasil kami pun agak kesulitan mencari tempat yang nyaman, nyaman berarti: ketika hujan turun gak menyebabkan genangan, sumber air mudah diakses. Saya, Bang Mamat & Yeni berbincang-bincang untuk merencanakan nenda di tempat lain, yaitu di Suryakencana, mengingat hari masih siang dan cerah, serta kondisi fisik badan kami masih segar bugar. Namun, ketika kami berbincang-bincang, anggota pasukan dari kami kok gak ada satu. Hmmmm,,, rupanya dia udah berposisi tiduran di atas tas carielnya itu,,, hadeehhh bang Topik-bang Topik…. Tentunya, dalam mengambil keputusan pada kondisi saat ini, voting bukan jalan terbaik (udah pasti Bang Taufik kalah heheh 😀 ). Nah, di sinilah (lagi) hal yang saya senang dalam setiap perjalanan traveling ke gunung. Iya, rasa peduli, simpati, empati kita dipertaruhkan. Begitu juga dengan apa yang kami alami saat itu. Melihat kondisi bang Topik (baik fisik maupun mental) udah gak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda di Kandang Badak. Segera kami mencari dengan sigap lokasi untuk mendirikan tenda yang sesuai dengan kriteria yang disebutkan tadi.

Kalau hanya sekedar bengong and doing nothing menunggu untuk mengejar sunrise, kayaknya sayang banget waktunya. Secara jam 12.20 nyampe di kandang badak sedang rencana summit adalah sepertiga malam menuju subuh datang, itu bukan waktu yang sebentar sobs. Kami pun segera bergegas membongkar isi caril dan menyiapkan segala perlatan dan logistik yang lainnya untuk kami olah menjadi santapan yang lezat… Yuk mari masakkk…. Eittssss, sebelum mengerjakan itu semua, kita shalat dzuhur dulu donk :). Yuk mari berjamaah dzhur 😉 . Dan menu masak kali ini: Nasi (PJ bang Topik), temennya nasi (kita2)-> sop, telur dadar spesial, goreng pop corn.

IMG_20131229_140556

IMG_20131229_141333

Setelah masak -> makan pun selesai, kami semua kelelahan… dan tertidur… dan bangun-bangun jam 16.30 … yuk lanjut ashar… dan nikmatin suasana sore hari di kandang badak, dengan cara: beres-beres tenda, cuci piring-nesting heheh.. terus lanjut bincang-bincang, curhat, diskusi, ngerencanain trip selanjutnya :D, bicarain jodoh lah, kerjaan lah, campur-campur pokonya mah, sampai gak terasa maghrib pun datang 🙂

Serius, ini perjalanan bener-bener camping ceria, seusai shalat maghrib kita makan-makan lagi . Padahal ketika di kosan pun perasaan makan gak sebanyak ini, kayaknya ni naik gunung bukannnya nurunin berat badan malah naikkin BB 😀 heuheuehueuu #tepokjidat. Sambil makan-makan, kita mematangkan rencana untuk summit. Sayang, bang Topik gak bakalan ikut summit gede. Beliau memilih bobo cantik sambil nungguin tenda. Alih-alih katanya beliau memang gak niat nyampe puncak dari awal. Tapi, sepanjang malam, hingga bangun tidur buat summit, kita membujuk bang Topik untuk ikut summit, kita ledekin mentang-mentang udah nyampe puncak Mahameru, Gede gak level. Entah dapet hidayah dari mana, finally bang Topik follows us to summit gede and We leaved together to the camp at 3.45 am o’clock.

Rombongan demi rombongan pun berangkat, sarung tangan, jaket tebel, tutup kepala, headlamp dan tentunya tas daypack berisi makanan pun telah siap!! Hehee… Let’s go and rock!!! Track jalur pendakian yang kami lalui dari Kandang Badak menuju puncak Gede sungguh berbeda dengan jalur pos TNGGP – Kandang Badak. Tidak ada lagi tumpukkan batu yang disusun seperti tangga, yang ada hanya akar-akar besar yang dengan cantik melintang di sepanjang perjalanan, belum lagi tumbuhan lain yang cukup rindang (bukan pohon), semakin ke atas semakin terjala, dan batu-batu besar serta track yang curam mulai menghadang. Mungkin Anda bisa bayangkan apa yang kami hadapi saat itu, harus melalui itu semua dengan kondisi penerangan jalan bermodalkan headlamp saja. BUT, we enjoyed it! Semunya kami hadapi dengan happy, untaian doa dan kalimah toyyibah serta menyebut asma-Nya senantiasa kami lantunkan dalam hati, sesekali keras juga. Kemudian diselingi dengan ngobrol-ngobrol bersama dengan para pendaki lainnya. Sungguh itu semua membuat perjalanan berasa ringan. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 5.15 pagi, kami pun segera mencari tempat yang nyaman untuk menunaikan shalat subuh.

IMG_20131230_084704

Udaara mulai terasa lebiihh dingin, kabut pekat mulai menyelimuti badan kami. Sesekali angin yang begitu kencang menyibak keras badan kami, hingga badan kami pun sedikit oleng. Dan sesekali itu pula, kami berhenti sejenak. Bau belerang pun mulai tercium pekat d hidung kami, rupanya puncak gede sudah di depan mata.

Tepat pukul 6.15 pagi, 30 Desember 2014, saya Zahra (pertama kalinya), bersama 3 teman saya telah berada di puncak gunung Gede. Meskipun kami tidak mendapatkan sunrise, tapi keindahan alam yang saya rasakan saat itu, sungguh merupakan nikmat-Mu yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengizinkan hamba-Mu ini merasakan bagian dari cipataan-Mu yang sungguh Maha Agung ini…. Saya berada di puncak Gunung Gede milik-Mu ini, sungguh tidak ada apa-apanya. Hamparan lautan awan yang membentang luas, permadani hijau di bawah sana, serta gunung-gunung yang menjulang tinggi terlihat jelas dari sini, menambah kesadaran bagi saya (khususnya), bahwa manusia ini hanya seonggok daging yang tidak ada apa-apanya dibandingkan cipataan-Mu yang lainnya. Maka, jadikanlah kami manusia ini menjadi manusia yang kau janjikan, yaitu sebagai cipataan yang mulia, muliakanlah kami ini dengan selalu berpegang teguh pada agama-Mu. Gede is Yours!

IMG_20131230_060515

IMG_20131230_072703

Dan tentunya, perjalan naik gunung itu tidak serta merta setelah mencapai puncak gunung kemudian selesai begitu saja. Tentu bukan itu. However, the important thing is about the changes. How do we care about nature and our live? We have to realize, that our live journey will not be changed, if there is no effort itself. And please take care of us till to be at our destination each of us.

Jakarta, May 12th  2014

@Sifaza

Published in: on May 12, 2014 at 1:34 pm  Leave a Comment  

Other Sides at The Jons

#pathCianjur #beautiful #promisedisland

View on Path

Published in: on February 20, 2014 at 11:56 pm  Leave a Comment  

#Inspiring

His name is Kaisar Baswedan. He is Anis Baswedan son. I’m very proud of him, because he can be a good idea role model for his friends.

View on Path

Published in: on January 31, 2014 at 6:46 am  Leave a Comment  

Happy

They are Grade 3 Marie Curie and always accompany me along first semester, even I don’t have teaching schedule at that class. They are very cheerful. …. – at Lazuardi Global Islamic School

View on Path

Published in: on January 30, 2014 at 3:12 pm  Leave a Comment  

#Inspiring

Her name is Kayla, grade 4 Giulio Natta students. For Quran Reciting, she has achieved Quran Surah Maryam. Great, Kayla! – at Lazuardi Global Islamic School

View on Path

Published in: on January 28, 2014 at 9:26 am  Leave a Comment  

#Inspiring

His name is Dharmaess, he has Asverger Syndrome. Now, he is at grade 4 Giulio Natta and Quran Reciting Iqra 4 well. Good job, Dharmaess. – at Lazuardi Global Islamic School

View on Path

Published in: on January 28, 2014 at 9:21 am  Leave a Comment  
Ulfahidupindah's Blog

Just another WordPress.com site

Zahra's Blog

A Dreamer who believes the dream itself becomes true

Yenimath's Blog

Just another WordPress.com site

Life Long Learner for Education

Just another WordPress.com weblog

Sufyansuri's Blog

An Inspiring Blog of Mathematical Education: A view of an ordinary mathematics student